Hidup hakikatnya adalah
menunggu, seorang ibu di saat hamil menunggu kehadiran seorang anak, seorang
anak menunggu beranjak remaja, seorang remaja menunggu untuk dewasa, dan
seorang dewasa nenunggu menjadi tua, hal ini adalah ukuran dari penantian
setiap jenjang kehidupan.
Anak yang sekolah di Taman
Kanak-kanak (TK) menunggu untuk Sekolah Dasar (SD), anak Sekolah Dasar (SD) mengharapkan
untuk SMP, anak SMP menanti SMA, dan Anak SMA nenanti duduk di bangku Kuliahan.
Itulah tarap penantian dalam sebuah jenjang pendidikan.
Terkadang kita lupa,
terkadang kita khilaf, dan terkadang kita acuh dengan suatu hal yang seharusnya
menjadi penantian yang paling abadi, yaitu KEMATIAN. Kematian tidak menunggu,
kematian tidak menanti, dan kematian tidak kompromi. Berapa umur kita, sedang
apakah kita, dimana kita berada kalau KEMATIAN sudah dekat kita tidak akan bisa
mengelak, karena Maut tidak akan terlewat walaupun sedetikpun.
Diantara sebuah
penantian keabadian akan kebutaan yang terkadang menggelapkan mata batin kita, terkadang
kita terlupa ada keabadian cinta yang seharusnya menjadi pertahanan kita yaitu
cinta kepada yang Maha Kuasa.
Dengan kerendahan hati,
dengan keterbatasan jiwa, dan dengan menundukkan pandangan. Kita berusaha untuk
mengingat apa itu Penantian keabadian yang disebut dengan KEMATIAN . tidak
pandang usia kita, tidak pandang jenjang karir kita, dan tidak pandang siapa
kita. Diantara semua itulah kita selipkan Penantian Keabadian yang sering kita
abaikan yatu KEMATIAN.
“CINTA
akan KEMATIAN Menjanjikan sebuah HARAPAN dan KEBUTAAN akan KEMATIAN menjanjikan
sebuah KEKOSONGAN”.
Goresan PENA-ku,
24/11/2013 01:18 WITA